Berita

Siswa SMK N 1 Pundong Menciptakan Alat Deteksi Longsor

Kamis Pahing, 24 Oktober 2019 15:28 WIB 36

foto

Sebagian wilayah Bantul, Yogyakarta, merupakan daerah pegunungan yang rawan longsor. Untuk mendeteksi dini longsor, para siswa di SMKN 1 Pundong, Bantul, membuat alat sirene longsor sebagai peringatan jika terjadi pergerakan tanah. Karya anak-anak SMK ini dipasang di perbukitan RT 02, Dusun Blali, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong. Alat berbentuk kotak itu dipasang di tiang besi dan di atasnya diberi sirene, pengeras suara, dan solar cell.

Empat siswa cekatan memasang alat dan terdapat 3 patok dengan titik berbeda. Di mana di dalam patok tersebut berisi kawat nikelin yang terhubung dengan potensiometer untuk mendeteksi rekahan tanah.  "Kami termotivasi membuat karena wilayah Bantul (ada) rawan longsor," kata siswa yang terlibat dalam pembuatan sirene longsor, Agus Prakoso kepada wartawan di lokasi, Rabu (23/10/2019).  Alat sirene longsor ini merupakan karya dari siswa kelas XII jurusan Teknik Audio Video (TAV)  yang dimotori oleh Agus Prakosa, Noval Rafiq dan Renaldi Defitra di bawah bimbingan Sunarman, tujuannya membuat alat itu agar bisa mengurangi korban jiwa bila terjadi longsor. Ada pun waktu pembuatan hanya sekitar satu bulan, namun untuk pemasangan membutuhkan survei terlebih dahulu.

"Yang sulit itu hanya penerapannya di lokasi agar alatnya bisa tahan lama. Karena untuk penerapan alat itu kita harus survei sehari penuh, dan hari berikutnya baru melakukan pemasangan," ucapnya.  Guru pembimbing Sumarwan menjelaskan, sirene longsor ini terdiri dari solar cell sebagai tenaga listrik surya, aki, speaker, lampu peringatan. Kemudian yang di dalam kotak itu berisi potensiometer, rangkaian untuk sirene, ampli 80 watt dan timer untuk membatasi suara saat terjadi rekahan tanah.

"Pembuatan sirene longsor lanjutan dari pembuatan alat pendeteksi banjir yang saat ini terpasang di Desa Selopamioro, (Imogiri, Bantul)," katanya.  Dijelaskannya, sistem kerja alat iini masih manual. Yakni kawat nikelin yang tertanam di tiga titik, menghubungkan ke potensiometer, dan jika terjadi pergerakan tanah 25 cm akan menarik kawat niklin dan gulungan potensiometer. Lalu alarm akan berbunyi. Volume bunyi alarm juga berbeda. Rekahan 20-25 cm alarm pertama akan berbunyi selama 8 menit. Jika rekahan bergeser 40-50 cm alarm akan berbunyi lebih keras selama 8 menit lagi. "Kalau ada rekahan lagi 50 cm sirene akan bunyi lebih nyaring, dan diharap warga meninggalkan lokasi," ujarnya.  Untuk anggaran pembuatan alat deteksi longsor diperkirakan Rp 8 juta sampai Rp 10 juta. "Saat ini baru satu lokasi yakni di Dusun Blali," katanya. Kepala SMK I Pundong, Sutopo mengatakan, sebelum memasang sirene longsor di Dusun Blibis, siswa juga telah memasang alat pendeteksi dini bahaya banjir yang ditempatkan di daerah Selopamioro. "Inovasi dari para siswa yang kedua yang telah disumbangkan kepada masyarakat," katanya. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto menyatakan mendukung dan mengapresiasi karya siswa SMKN 1 Pundong. Sebab, beberapa wilayah di Bantul merupakan kawasan longsor dan memerlukan alat deteksi dini. Di Bantul sendiri, masih ada sekitar 100-an titik yang memerlukan pemasangan alat deteksi dini. Namun demikian, pihaknya masih akan melihat sejauhmana alat tersebut berfungsi. "Harapan ke depannya semoga bisa terus dikembangkan, nanti akan kita terus dorong, dan kita kami siap kerja sama untuk mengembangkan alat seperti ini," katanya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Siswa SMK di Bantul Ciptakan Inovasi Alat Deteksi Dini Longsor", https://regional.kompas.com/read/2019/10/24/08120701/siswa-smk-di-bantul-ciptakan-inovasi-alat-deteksi-dini-longsor?page=2.
Penulis : Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Editor : Farid Assifa