Berita

Kementerian LHK Teken MoU dengan Muhammadiyah Terkait Pengelolaan Lingkungan Hidup

Jumat Pon, 13 Mei 2016 23:18 WIB 974

foto
Penandatanganan Nota Kesepahaman oleh Menteri LHK Siti Nurbaya dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir, M.Si tentang Konservasi Sumber Daya Hutan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bersama dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir, M.Si menandatangani Nota Kesepahaman tentang Konservasi Sumberdaya Hutan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

MoU diteken pada acara Seminar dan Rakernas Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah di Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (30/04). Wujud dari kerjasama tersebut adalah untuk menjalin penguatan umat serta komunitas khususnya Muhammadiyah dalam pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan.
 
Siti Nurbaya mengapresiasi prakarsa kerja sama ini, mengingat Muhammadiyah merupakan leader pada civil society. Menteri melihat pentingnya penguatan komunitas dalam tata kelola lingkungan secara berkelanjutan sehingga terbentuk good environmental governance. 

'' Kebijakan Pemerintah mengaitkan stakeholders dalam setiap pengambilan keputusan. Sebagai contoh, Save Kakatua Jambul Kuning, Gerakan Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar, Gerakan Indonesia Bebas Sampah 2020 dan kebijakan kantong plastik berbayar, merupakan gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh masyarakat, komunitas dan civil society yang pada akhirnya menjadi program nasional dan mendapat dorongan semangat dari pihak-pihak lain,'' kata Siti Nurbaya.
 
Siti Nurbaya mengharapkan adanya value transfer dari konteks kerjasama ini sehingga kebijakan pemerintah sesuai aspirasi masyarakat. Sustainable development triangle yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan haruslah dijaga keseimbangannya. 

''Untuk itu berbagai masukan dari masyarakat, komunitas dan civil society terkait environmental governance sangat dibutuhkan mengingat besarnya permasalahan yang dihadapi pemerintah seperti kerusakan lingkungan, keadilan lingkungan, pengelolaan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, pengelolaan air, energi terbarukan,'' ujarnya.

Hal yang harus menjadi catatan penting adalah dalam mengantisipasi perubahan iklim yang menimbulkan bencana bagi kehidupan. Dengan dukungan dari masyarakat, pemerintah dapat memperlihatkan komitmen Indonesia dalam menyelamatkan lingkungan hidup yang berkelanjutan kepada dunia internasional.
 
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, fokus Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan adalah menyelamatkan lingkungan hidup tanpa merusak sesuai dengan spirit Islam. Haedar Nashir melihat paradigma berfikir kaum modern selama ini telah terjebak pada alam pikiran fungsionalisme dan positifisme yang melihat alam sebagai obyek demi pembangunan dan keuntungan yang sebesar-besarnya, namun lupa dampak selanjutnya yang membawa kerugian. 

Manusia diutus menjadi khalifah di muka agar mengolah alam supaya makmur, namun yang terjadi justru penistaan terhadap alam. Untuk itu Seminar dan Rakernas Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah ini diselenggarakan agar dapat meluruskan paradigma pemikiran secara akademik sehingga tidak terjebak pada merusak alam atas nama pembangunan dan modernisme peradaban.
 
Haedar Nashir menyebut teori development with meaning, membangun dengan makna sehingga relasi manusia dengan alam lebih bersahabat. Muhammadiyah dapat melaksanakannya melalui dua sisi, yaitu sisi keilmuan atau akademik dan sisi aktivis keagamaan dengan meletakkan agama sebagai kerangka berpikir. 

''Dari sisi keilmuan, sebuah gerakan menyelamatkan bumi secara berkelanjutan dapat dimulai dari titik nol saat mahasiswa belajar akar asumsi pada logika berpikir. Kemudian di sisi aktivis keagamaan, perlu dibangun kesadaran teologi berbasis lingkungan. Menyelamatkan bumi menjadi syariah alam dan fikih lingkungan,'' kata Ketua PP Muhammadiyah.

Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/lingkungan-hidup-dan-hutan/16/05/03/o6hwai219-kementerian-lhk-teken-mou-dengan-muhammadiyah-terkait-pengelolaan-lingkungan-hidup